Penyambutan Valen DA7 Diatur Super Ketat, Publik Protes: Konser Kok Seperti Pengajian?
Metaberita.com – Rencana penyambutan Achmad Valen Akbar, finalis Dangdut Academy 7 (DA7) 2025 asal Pamekasan, terus menuai sorotan publik. Aturan penyambutan yang dinilai sangat ketat memicu perdebatan di tengah masyarakat, khususnya di media sosial.
Kontroversi ini mencuat setelah beredar komentar dan unggahan warganet di platform TikTok, salah satunya dari akun @cangkarok_pak_ustad. Dalam unggahan tersebut ditegaskan bahwa penyambutan Valen bukan berbentuk konser hiburan, melainkan dikemas sebagai acara pengajian dan al-banjari Pada 30/12/25.
“Ini namanya bukan konser, Valen suruh aja pakai kopyah, baju koko, dan sarung karena biar menjadi acaranya pengajian dan al-banjari sekalian. Sungguh aneh hidup di pamekasan” tulis akun tersebut dalam kolom komentar.
Namun demikian, tidak sedikit masyarakat yang mempertanyakan keadilan penerapan aturan tersebut. Sejumlah warganet menilai pembatasan hanya diterapkan pada acara penyambutan Valen, sementara kegiatan lain dinilai luput dari penertiban serupa.
Sebagian masyarakat menegaskan bahwa acara penyambutan itu akan digelar di ruang terbuka dan bukan di tempat remang-remang, sehingga kecil kemungkinan terjadi tindakan yang melanggar norma, seperti ciuman atau pelukan berlebihan.
Selain itu, masyarakat juga menyoroti bahwa dunia hiburan dan industri musik pada umumnya memang mengenal konsep duet atau bernyanyi bersama lawan jenis. Bahkan, figur besar seperti Rhoma Irama pun kerap tampil berduet dengan penyanyi perempuan di berbagai panggung.
“Masa konser penyambutan juara saja yang diatur ketat. Kalau mau menertibkan kemaksiatan, jangan pilih-pilih. Harus merata,” tulis salah satu komentar warganet yang ramai di media sosial.
Kritik juga diarahkan kepada lembaga keagamaan agar tidak hanya fokus pada acara hiburan. Warganet meminta agar Tokoh Agama setempat turut menyoroti persoalan lain yang dinilai lebih serius di masyarakat supaya adil.
">Dalam salah satu komentar, warganet bahkan menyinggung penggunaan aplikasi MiChat yang disebut-sebut telah menjadi rahasia umum di Pamekasan. Mereka meminta agar aplikasi tersebut juga ditertibkan karena dinilai berpotensi lebih merusak dibandingkan sekadar konser musik yang menghadirkan duet lawan jenis.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Pamekasan sebelumnya telah menegaskan bahwa konsep penyambutan Valen disusun berdasarkan hasil koordinasi dengan tokoh agama. Aturan tersebut, menurut Bupati Pamekasan Kholilurrahman, bertujuan menjaga ketertiban serta kearifan lokal.
Hingga kini, perdebatan masih terus berlangsung di ruang publik. Masyarakat berharap adanya kebijakan yang adil dan konsisten, sehingga kebanggaan atas prestasi putra daerah dapat dirayakan tanpa memicu polemik berkepanjangan.














