Metaberita.com – Rencana penyambutan Achmad Valen Akbar, finalis Dangdut Academy 7 (DA7) 2025 asal Pamekasan, justru memantik polemik di tengah masyarakat. Sejumlah warga menilai aturan ketat yang diterapkan pemerintah daerah bersama tokoh agama terkesan timpang dan tidak menyentuh persoalan sosial yang dianggap jauh lebih mendesak.

Sorotan utama publik mengarah pada maraknya penggunaan aplikasi MiChat di Pamekasan yang selama ini disebut-sebut menjadi “rahasia umum” sebagai medium praktik menyimpang. Warganet mempertanyakan konsistensi sikap para tokoh agama dan pemangku kebijakan yang dinilai sigap membatasi acara penyambutan bernuansa kesenian, namun belum terlihat tegas dalam menertibkan fenomena tersebut.

Salah satu warga berinisial T secara terbuka meminta para ulama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah daerah untuk turun langsung menangani persoalan tersebut.

“Kepada beliau-beliau, coba download aplikasi MiChat. Lihat sendiri berapa banyak warga Pamekasan yang menggunakannya. Itu sudah jadi rahasia umum dan dampaknya jauh lebih parah daripada sekadar acara penyambutan,” ujar T.

Selain isu MiChat, masyarakat juga menilai pembatasan terhadap penyambutan Valen terkesan tidak adil. Menurut mereka, aturan ketat hanya diberlakukan pada satu kegiatan tertentu, sementara banyak acara lain luput dari pengawasan serupa.

Warganet pun menegaskan bahwa penyambutan Valen rencananya digelar di ruang terbuka, bukan di tempat tertutup atau remang-remang. Dengan kondisi tersebut, mereka menilai kecil kemungkinan terjadinya tindakan yang melanggar norma, seperti ciuman atau pelukan.

Aspek industri hiburan turut diseret dalam perdebatan ini. Sejumlah warga menilai duet atau bernyanyi bersama lawan jenis merupakan hal lazim di dunia musik nasional. Bahkan, praktik tersebut telah lama dilakukan oleh tokoh besar dangdut seperti Rhoma Irama di berbagai panggung tanpa menuai polemik serupa.

">

Kontroversi semakin memanas setelah ramai komentar netizen yang menyebut penyambutan Valen sejatinya bukan konser musik. Acara tersebut diklaim telah dikemas ulang dalam bentuk pengajian dan al-banjari demi menyesuaikan dengan kesepakatan bersama tokoh agama.

“Ini bukan konser. Konsepnya sudah diubah. Pengajian dan al-banjari. Sekalian saja Valen pakai kopyah, baju koko, dan sarung,” tulis salah satu netizen di TikTok.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Pamekasan menyatakan bahwa konsep penyambutan telah disepakati bersama tokoh agama. Salah satu poin kesepakatan tersebut adalah larangan menghadirkan penyanyi perempuan dewasa serta menghindari hiburan yang bersifat euforia.

Namun hingga kini, perdebatan soal keadilan dan konsistensi penegakan aturan masih terus bergulir di ruang publik. Masyarakat berharap kebijakan yang diterapkan tidak bersifat selektif dan mampu menjawab persoalan sosial secara lebih menyeluruh, bukan hanya tegas pada satu acara, namun abai pada masalah yang dinilai lebih krusial.