Metaberita.com – Nama Risma belakangan menjadi sorotan publik setelah disebut memiliki peran penting dalam mendukung kemenangan Valen Akbar di ajang Dangdut Academy (DA) 7. Sosoknya pun menuai rasa penasaran masyarakat.

Risma, yang dikenal dengan julukan Risma Catering Makkah, merupakan seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia yang kini menetap di Mekkah, Arab Saudi. Keputusannya merantau ke Tanah Suci untuk bekerja tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan jejak orang-orang terdahulu yang lebih dulu mengadu nasib di kawasan Timur Tengah.

Berangkat dari nol, Risma perlahan membangun usaha kuliner di Arab Saudi. Ia menegaskan bahwa seluruh proses bisnis yang dijalani murni hasil kerja kerasnya sendiri tanpa campur tangan orang tua. Latar belakang keluarganya yang juga pernah bekerja pada warga Arab menjadi salah satu motivasi kuat dalam perjalanan hidupnya. Hal tersebut diungkapkan Risma melalui kanal YouTube Faiz Slamet.

Usaha yang awalnya berskala kecil kini berkembang pesat. Dari berjualan sederhana, bisnis katering dan makanan ringan yang dirintis Risma disebut mampu menghasilkan omzet hingga sekitar Rp 3,7 miliar. Sebuah capaian yang terbilang luar biasa bagi seorang perantau.

Sebelum mencapai titik kesuksesan tersebut, Risma sempat menjalani hari-hari sebagai pedagang kaki lima. Ketika pertama kali memperluas usahanya, ia hanya mampu mempekerjakan empat orang yang seluruhnya berasal dari keluarganya sendiri. Seiring berkembangnya bisnis, jumlah tenaga kerja yang ia rekrut terus bertambah hingga kini mencapai sekitar 80 orang.

Meski demikian, Risma mengakui bahwa jumlah karyawannya tidak selalu stabil setiap tahun. Hal tersebut sangat bergantung pada proyek dan tender kerja sama yang berhasil diperolehnya, terutama pada musim-musim tertentu seperti ibadah haji dan umrah.

Di balik kesuksesan, Risma juga tak menutup mata terhadap risiko bisnis yang pernah ia alami. Ia mengaku sempat mengalami kerugian besar akibat kerja sama dengan sejumlah agen perjalanan dan hotel yang tidak berjalan sesuai harapan.

Dalam salah satu pengalamannya, Risma mengungkapkan pernah mengalami kerugian hingga 370 ribu riyal atau setara Rp 1,4 miliar. Kerugian tersebut terjadi karena keterbatasan jumlah karyawan sehingga tidak mampu memenuhi permintaan selama masa puncak kunjungan jemaah. Padahal, biaya kontrak hotel dan restoran yang harus dibayar terbilang tinggi, sementara periode ramai hanya berlangsung dalam waktu singkat.

">

Dari pengalaman pahit tersebut, Risma mengambil banyak pelajaran. Kini ia memilih untuk lebih selektif dalam menjalin kerja sama. Jika sebelumnya menggandeng lima hotel sekaligus, saat ini ia membatasi hanya bekerja sama dengan dua hotel guna meminimalkan risiko kerugian.