OPINI, Metaberita.com || Bencana longsor yang terjadi di Dusun Paseset Timur, Desa Sana Daja, pada 17 Januari 2026, bukan sekadar peristiwa alam yang datang tiba-tiba. Longsor tersebut meninggalkan dampak sosial yang serius bagi warga setempat. Sedikitnya 14 rumah rusak parah dan puluhan warga dari 18 kepala keluarga terdampak, memaksa mereka menghadapi kenyataan pahit kehilangan tempat tinggal sekaligus rasa aman.

Di balik angka-angka tersebut, terdapat kisah manusia yang sering kali luput dari perhatian publik. Anak-anak kehilangan ruang bermain, orang tua kehilangan ketenangan, dan keluarga kehilangan kepastian akan masa depan. Bencana semacam ini menguji bukan hanya ketangguhan warga, tetapi juga kepekaan sosial semua pihak yang menyaksikannya dari kejauhan.

Dalam kondisi darurat seperti ini, kepedulian tidak boleh berhenti pada rasa iba atau empati simbolik. Solidaritas sosial menuntut tindakan nyata dan keberpihakan yang jelas. Tanpa kehadiran langsung di tengah korban, simpati berisiko berubah menjadi wacana kosong yang cepat dilupakan seiring berlalunya waktu.

Kesadaran itulah yang mendorong PMII Rayon Ibnu Aly untuk turun langsung melakukan penggalangan dana. Selama lima hari, mahasiswa membuka donasi di pertigaan Waru, tepatnya di depan Maharani Resto. Turun ke jalan bukan perkara mudah; panas terik, kelelahan fisik, hingga tekanan psikologis menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Namun, semua rintangan tersebut menjadi kecil ketika dibandingkan dengan penderitaan warga yang terdampak longsor. Mahasiswa memilih menanggalkan kenyamanan demi menghadirkan harapan, sekecil apa pun bentuknya. Sikap ini menunjukkan bahwa aktivisme mahasiswa tidak selalu hadir dalam bentuk demonstrasi, tetapi juga melalui kerja-kerja kemanusiaan.

Penyaluran bantuan sembako kepada korban longsor pada 25 Januari 2026 menjadi momentum penting dari rangkaian aksi tersebut. Bantuan yang diberikan mungkin tidak mampu menggantikan kerugian material warga, namun setidaknya mampu meringankan beban dan menguatkan mental mereka yang sedang berada dalam situasi sulit.

Lebih dari sekadar distribusi bantuan, kehadiran mahasiswa di tengah warga terdampak membawa pesan moral yang kuat. Mahasiswa hadir bukan sebagai penyelamat atau pihak yang merasa paling peduli, melainkan sebagai saudara yang ikut merasakan duka dan kecemasan korban bencana.

Peristiwa di Sana Daja juga menegaskan bahwa bencana alam selalu memiliki dimensi kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan. Ketika tanah longsor merobohkan rumah, yang ikut runtuh adalah rasa aman dan kepercayaan warga terhadap perlindungan sosial. Di titik inilah solidaritas menjadi fondasi utama dalam proses pemulihan.

">

Mahasiswa, dengan segala keterbatasannya, tetap memiliki peran strategis dalam menjaga nurani publik. Kehadiran mereka di tengah masyarakat adalah pengingat bahwa kepedulian sosial tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada negara atau lembaga formal. Ada tanggung jawab kolektif yang harus terus dirawat.

Pada akhirnya, tragedi longsor di Sana Daja mengajarkan satu hal penting: kemanusiaan harus terus diperjuangkan agar tidak terkikis oleh lupa. Selama masih ada ketimpangan dan penderitaan, mahasiswa dituntut untuk tetap berdiri di barisan terdepan melawan lupa, merawat nurani, dan berpihak pada rakyat.


Penulis : Abd Qadir (Pemuda Dsn Duwa Pote, Desa Dempo Timur, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan).