Rupiah Menguat di Awal Perdagangan, Dipicu Isyarat Pelonggaran Kebijakan The Fed
Metaberita.com || Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu. Mata uang Garuda terapresiasi 36 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp16.732 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.768 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai penguatan rupiah didorong oleh meningkatnya keyakinan pasar terhadap arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) yang cenderung longgar ke depan. Pelemahan indeks dolar global menjelang rapat The Fed turut memberi sentimen positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Pada perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp16.710 hingga Rp16.770 per dolar AS. Sentimen global berasal dari melemahnya dolar AS menjelang rapat The Fed, meskipun suku bunga acuannya diperkirakan belum berubah,” ujar Rully di Jakarta.
Ia menambahkan, meski The Fed diproyeksikan mempertahankan suku bunga, sinyal kebijakan moneter ke depan mengarah pada pelonggaran. Hal tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi kepemilikan aset berbasis dolar AS.
Berdasarkan laporan Anadolu, Federal Reserve diperkirakan akan menahan suku bunga di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen pada pertemuan perdananya di tahun 2026. Sebelumnya, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) telah memangkas suku bunga secara bertahap dengan total 75 basis poin sepanjang September hingga Desember 2025.
Langkah penurunan suku bunga tersebut dilakukan di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap bank sentral AS. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka berulang kali mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga, bahkan pemerintahannya disebut tengah menyelidiki dugaan pelanggaran hukum yang melibatkan Ketua The Fed, Jerome Powell.
Selain faktor moneter AS, ketidakpastian kebijakan perdagangan global juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Rencana penerapan tarif tinggi oleh pemerintahan Trump, mulai dari ancaman tarif 100 persen terhadap Kanada hingga kenaikan bea masuk otomotif terhadap Korea Selatan, memicu sikap wait and see pelaku pasar.
“Ketidakpastian kebijakan tarif tersebut mendorong investor melepas aset dolar dan mencari alternatif di mata uang lain,” kata Rully.
">Dari dalam negeri, komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar dinilai tetap kuat. Namun, ruang pelonggaran moneter melalui penurunan suku bunga acuan dinilai semakin terbatas, seiring fokus BI menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan optimisme bahwa rupiah akan menguat secara fundamental. Ia menilai kondisi inflasi yang terkendali, prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik, imbal hasil investasi yang menarik, serta konsistensi kebijakan BI menjadi faktor penopang utama nilai tukar.
Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih bersifat jangka pendek, salah satunya dipicu kenaikan harga pangan akibat cuaca ekstrem dan bencana alam yang mengganggu distribusi komoditas pangan.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi nasional, Bank Indonesia telah menurunkan BI-Rate sebanyak lima kali sejak September 2024 hingga berada di level 4,75 persen. Meski demikian, BI tetap membuka peluang penyesuaian suku bunga lanjutan dengan mempertimbangkan dinamika global dan domestik.
Selain kebijakan suku bunga, Perry menegaskan BI terus aktif melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, mencakup kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Di dalam negeri, BI juga melakukan intervensi di pasar spot, pasar tunai, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).















Tinggalkan Balasan