Kim Jong-un Isyaratkan Siap Pasok Rudal ke Iran, “Satu Rudal Saja Cukup Menghacurkan Israel”
Metaberita.com – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, menyatakan negaranya siap memberikan dukungan militer kepada Iran jika diminta. Dukungan tersebut termasuk kemungkinan memasok rudal, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Kim juga mengeluarkan peringatan keras terkait konflik yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat. Ia menyinggung bahwa satu rudal saja sudah cukup untuk menghancurkan Israel.
Pernyataan tersebut muncul setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran yang menuai kecaman keras dari Pyongyang. Pemerintah Korea Utara menilai aksi militer itu sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Iran serta bertentangan dengan hukum internasional.
Nada Keras dari Pyongyang
Analisis yang dikutip dari media internasional The Diplomat menyebutkan bahwa Korea Utara memandang konflik tersebut bukan sekadar eskalasi regional. Bagi Pyongyang, serangan terhadap Iran juga dianggap sebagai tekanan militer Amerika Serikat terhadap negara yang selama ini memiliki hubungan diplomatik dan militer dengan mereka.
Padahal, hanya beberapa pekan sebelumnya, Kim Jong-un sempat memberi sinyal kemungkinan membuka kembali dialog dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam kongres Partai Buruh Korea di Pyongyang.
Namun situasi berubah cepat setelah operasi militer terhadap Iran terjadi.
Pada 1 Maret lalu, kurang dari 24 jam setelah serangan dilaporkan, Korea Utara merilis pernyataan resmi melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri yang tidak disebutkan namanya. Para analis menilai langkah ini memberi ruang bagi pemerintah Korea Utara untuk menyampaikan pesan keras tanpa langsung mengatasnamakan pemimpin tertinggi.
">Tuduhan terhadap AS dan Israel
Dalam pernyataan tersebut, Pyongyang menyampaikan sejumlah poin utama.
Pertama, Korea Utara menilai serangan Israel dan Amerika Serikat sebagai bentuk agresi yang melanggar kedaulatan negara lain.
Kedua, mereka menyebut serangan itu sebagai konsekuensi dari apa yang mereka gambarkan sebagai kebijakan hegemonik Washington di kawasan Timur Tengah.
Ketiga, Korea Utara juga mengecam penggunaan kekuatan militer yang dinilai melanggar hukum internasional.
Selain itu, Pyongyang menuduh Amerika Serikat dalam setahun terakhir semakin memperburuk stabilitas global melalui berbagai kebijakan luar negeri dan militer.
Pemerintah Korea Utara juga mendesak negara-negara di kawasan untuk mengidentifikasi pihak yang dianggap sebagai agresor serta mengambil langkah guna memulihkan stabilitas dan perdamaian di Timur Tengah.
Risiko dan Peluang bagi Korea Utara
Menurut analisis The Diplomat, keterlibatan langsung Korea Utara dengan memasok senjata ke Iran berpotensi membawa keuntungan sekaligus risiko bagi Pyongyang.
Salah satu peluang yang muncul berkaitan dengan rantai pasokan militer bagi Rusia dalam perang di Ukraina. Selama ini Iran dan Korea Utara diketahui menjadi pemasok berbagai peralatan militer bagi Moskow, mulai dari drone hingga amunisi.
Jika Iran harus memfokuskan persenjataannya untuk menghadapi konflik dengan Israel dan Amerika Serikat, maka kemungkinan akan terjadi kekosongan pasokan bagi Rusia. Dalam situasi tersebut, Korea Utara berpotensi mengisi celah tersebut dan memperkuat pengaruhnya terhadap Moskow.
Di sisi lain, krisis ini juga memunculkan pertanyaan mengenai seberapa jauh Rusia bersedia memberikan dukungan nyata kepada sekutunya.
Dalam beberapa tahun terakhir, baik Iran maupun Korea Utara telah memperkuat hubungan strategis dengan Rusia. Korea Utara menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif dengan Moskow pada Juni 2024, sementara Iran meneken kesepakatan serupa pada Januari 2025.
Meski demikian, hingga kini Rusia hanya merespons konflik tersebut melalui kecaman diplomatik terhadap serangan Israel dan Amerika Serikat. Moskow juga menyatakan tetap menjalin komunikasi dengan kepemimpinan Iran, namun belum menunjukkan dukungan militer secara langsung.
Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa Teheran kemungkinan harus menghadapi krisis tersebut dengan dukungan terbatas dari sekutunya. (*)















Tinggalkan Balasan