Pasca Eskalasi Konflik AS–Iran, Apakah Indonesia Berpotensi Jadi Target Berikutnya?
Metaberita.com – Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran memicu berbagai spekulasi baru mengenai arah kebijakan luar negeri Washington ke depan. Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Kuba mulai disebut-sebut sebagai kemungkinan target tekanan berikutnya dari pemerintah AS.
Spekulasi ini menguat setelah Senator Partai Republik, Lindsey Graham, secara terbuka menyinggung kemungkinan itu dalam sebuah wawancara dengan Fox News. Ia menyatakan bahwa Kuba bisa menjadi fokus kebijakan AS selanjutnya setelah Iran. Graham bahkan menyebut pemerintahan komunis di negara Karibia tersebut sebagai rezim yang masa depannya semakin terancam.
Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan yang menargetkan sejumlah fasilitas strategis dan tokoh penting Iran itu memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah serta memancing respons militer dari Teheran.
Di sisi lain, Kuba kini tengah menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Pemerintah AS sebelumnya telah memberlakukan pembatasan terhadap pasokan minyak ke negara pulau tersebut, langkah yang memperburuk krisis energi dan ekonomi di Havana.
Situasi semakin sulit setelah sekutu utama Kuba, Presiden Venezuela Nicolás Maduro, ditangkap dalam operasi militer AS pada awal tahun ini. Selama ini Venezuela menjadi pemasok minyak utama bagi Kuba, sehingga kehilangan dukungan tersebut memperparah kondisi ekonomi negara tersebut.
Peneliti senior keamanan Amerika Latin dari Royal United Services Institute, Carlos Solar, menilai Kuba saat ini berada dalam posisi yang semakin terisolasi. Menurutnya, Havana kehilangan dua mitra penting sekaligus, yakni Venezuela dan Iran, pada saat tekanan dari Washington sedang berada pada titik tertinggi.
Meski demikian, Solar menilai masih belum jelas bagaimana Amerika Serikat akan benar-benar memaksa perubahan rezim di Kuba. Ia mempertanyakan langkah konkret yang dapat diambil Washington untuk membuat pemerintah di Havana runtuh atau menyerah terhadap tekanan tersebut.
Sementara itu, profesor Studi Amerika Latin dari University of Nottingham, Par Kumaraswami, mengatakan situasi geopolitik global yang semakin tegang justru meningkatkan kecemasan di dalam negeri Kuba. Banyak warga negara itu khawatir terhadap dampak krisis global terhadap kehidupan mereka sehari-hari.
">Di tengah kondisi tersebut, pemerintah Kuba menyerukan agar konflik di Timur Tengah segera dihentikan. Havana juga mengecam keras serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.















Tinggalkan Balasan