Metaberita.com – Kabar bahagia datang dari keluarga Presiden ke-4 Republik Indonesia, almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Putri bungsunya, Inayah Wulandari Wahid, resmi menikah dengan kiai muda asal Sumenep, KH Shalahuddin A. Warits yang akrab disapa Ra Mamak.

Akad dan prosesi pernikahan keduanya berlangsung khidmat di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Raya, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, pada Minggu, 5 April 2026. Momen sederhana tersebut memperlihatkan kedua mempelai bersanding didampingi keluarga dan kerabat dekat dalam suasana hangat khas pesantren.

Pernikahan ini sekaligus mempertemukan dua keluarga besar yang memiliki pengaruh kuat dalam dunia pendidikan Islam dan kehidupan sosial keagamaan di Indonesia.

Lahir dari Keluarga Ulama Madura

KH Shalahuddin A. Warits lahir di Sumenep pada 16 April 1982. Ia merupakan putra dari almarhum KH A. Warits Ilyas, seorang ulama kharismatik Madura yang dikenal luas memiliki peran penting dalam dunia pesantren sekaligus kehidupan politik lokal.

Sejak kecil, Ra Mamak tumbuh dalam lingkungan pendidikan pesantren. Tradisi keilmuan Islam yang kuat membentuk karakter dan arah pengabdiannya, terutama dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Ia kemudian melanjutkan tongkat kepemimpinan keluarga sebagai salah satu pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, khususnya di kawasan Lubangsa, Guluk-Guluk.

Dalam kesehariannya, Ra Mamak dikenal menekankan nilai moral, spiritual, serta kemandirian dalam sistem pendidikan pesantren. Ia juga aktif membina santri, mengajar kitab kuning, dan mengembangkan kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

Pendidikan Pesantren hingga Timur Tengah

">

Riwayat pendidikan Ra Mamak dimulai dari Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Pesantren Annuqayah. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah Keagamaan Tebuireng, Jombang.

Usai menamatkan pendidikan menengah, Ra Mamak melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Sepulang dari Timur Tengah, semangat akademiknya tetap berlanjut dengan menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, antara lain UIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Indonesia, serta Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Latar belakang pendidikan tersebut membentuknya sebagai kiai dengan perspektif pesantren yang kuat namun memiliki wawasan global.

Aktif di NU dan Pembangunan Daerah

Selain fokus pada dunia pendidikan, Ra Mamak juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama di Kabupaten Sumenep. Keterlibatannya tidak hanya dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga dalam penguatan peran NU dalam pembangunan sosial masyarakat.

Ia kerap menekankan pentingnya integrasi antara nilai-nilai keislaman dengan kemajuan daerah. Perannya di lingkungan struktural dan kultural NU menjadikannya salah satu tokoh muda yang diperhitungkan di Madura.

Namanya juga sempat masuk dalam bursa calon Bupati Sumenep pada Pilkada 2020, meskipun tidak berlanjut hingga tahap pencalonan resmi.

Kiai Muda dengan Kemampuan Multibahasa

Selain dikenal sebagai pengasuh pesantren, Ra Mamak juga memiliki kemampuan linguistik yang cukup menonjol. Ia disebut menguasai beberapa bahasa asing, di antaranya bahasa Arab, Inggris, dan Prancis.

Kemampuan tersebut menjadi modal penting dalam memperluas jaringan dakwah serta menjalin komunikasi dengan kalangan akademik internasional. Hal ini juga selaras dengan tradisi intelektual yang melekat pada keluarga besar Gus Dur.

Menyatukan Dua Tradisi Besar

Pernikahan Ra Mamak dan Inayah Wahid tidak hanya menjadi kabar bahagia bagi keluarga, tetapi juga dinilai sebagai pertemuan dua tradisi besar: pesantren Madura dan keluarga intelektual Ciganjur.

Keduanya sama-sama berasal dari lingkungan yang menempatkan pendidikan, toleransi, dan nilai keagamaan sebagai fondasi utama. Kehadiran pasangan ini diharapkan memperkuat kontribusi dalam dunia pendidikan Islam dan kehidupan sosial kemasyarakatan di Indonesia. (Dull)