Pesta Babi 2026: Saat Elite Berpesta, Rakyat Menanggung Luka
Opini,metaberita.com – Film Pesta Babi bukan sekadar tontonan biasa, melainkan sindiran keras terhadap wajah kekuasaan di negeri ini. Film tersebut menggambarkan bagaimana sebagian elite masih bisa menikmati jabatan, kemewahan, dan kepentingan politik di tengah kehidupan rakyat yang penuh kesulitan.
Ketika masyarakat berharap solusi nyata atas persoalan ekonomi, sosial, dan keadilan, yang sering terlihat justru pencitraan politik dan perebutan kepentingan antar kelompok berkuasa.
Kritik dalam film ini terasa relevan jika dikaitkan dengan berbagai persoalan nasional, termasuk konflik dan kebijakan pengambilan tanah di Papua yang sudah berlangsung sejak era Suharto hingga pemerintahan Prabowo Subianto saat ini.
Pemerintah silih berganti datang dengan janji pembangunan dan kesejahteraan, tetapi kenyataannya banyak persoalan mendasar yang belum terselesaikan.
Konflik tanah, ketimpangan pembangunan, minimnya kepercayaan masyarakat terhadap negara, hingga pendekatan yang sering dianggap lebih mengutamakan kepentingan kekuasaan daripada dialog kemanusiaan menjadi bukti bahwa kebijakan yang dijalankan belum sepenuhnya berhasil.
Film ini seolah ingin menyampaikan bahwa negara tidak cukup hanya hadir melalui proyek dan slogan pembangunan.
Rakyat membutuhkan keadilan, ruang untuk didengar, dan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada mereka.
Sebab ketika pemerintah gagal memahami suara masyarakat, maka kekuasaan hanya akan terlihat sebagai pesta bagi para elite, sementara rakyat tetap menjadi penonton dari penderitaan mereka sendiri.
">
Opini Ini di tulis Abd Qadir, Mahasiswa Aktif Stidkis Al-Mardliyah, Sekaligus Pelajar NU Pasean.


Tinggalkan Balasan