Saling Ancam Terbuka: Iran Siap Bakar AS, Trump Janji Hancurkan Iran
INTERNASIONAL, Metaberita.com || Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat kembali berada di titik panas. Alih-alih mereda, ketegangan justru meningkat tajam setelah kedua negara saling melontarkan ancaman terbuka yang menyasar langsung pemimpin dan simbol kekuasaan masing-masing.
Peringatan keras terbaru datang dari Teheran. Iran menegaskan tidak akan tinggal diam jika ada tindakan apa pun yang mengancam Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei. Pernyataan tersebut muncul sebagai respons atas sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang secara terbuka mengkritik kepemimpinan Khamenei dan menyerukan perubahan kekuasaan di Iran.
Juru bicara angkatan bersenjata Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, menyampaikan bahwa setiap bentuk agresi terhadap pemimpin tertinggi Iran akan dibalas secara ekstrem. Ia menegaskan bahwa Iran tidak hanya akan melawan, tetapi siap memberikan dampak yang luas terhadap pihak yang menyerang.
Sebelumnya, dalam wawancara dengan media Politico pada akhir pekan lalu, Donald Trump menyebut Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin yang gagal menjalankan negara dengan baik. Trump juga menyiratkan bahwa Iran membutuhkan kepemimpinan baru setelah hampir empat dekade berada di bawah pemerintahan yang sama.
Di tengah memanasnya retorika politik tersebut, situasi domestik Iran juga dilaporkan masih menyisakan luka mendalam. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat gelombang unjuk rasa di Iran mencapai sedikitnya empat ribu empat ratus delapan puluh empat orang.
Lembaga tersebut selama ini dikenal aktif memantau kondisi Iran melalui jaringan aktivis di dalam negeri, meski hingga kini angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh Associated Press. Jika benar, jumlah korban itu menjadi yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir, bahkan mendekati skala kekerasan yang terjadi menjelang Revolusi Iran tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh sembilan.
Meski aksi protes dilaporkan mereda dalam beberapa hari terakhir, kekhawatiran masih menyelimuti. Penutupan akses internet sejak awal Januari dinilai berpotensi menutup informasi lanjutan, sehingga angka korban dikhawatirkan masih akan bertambah seiring terbukanya data baru.
Ayatollah Ali Khamenei sendiri untuk pertama kalinya mengakui besarnya dampak kerusuhan tersebut. Dalam pernyataan publiknya, ia menyebut bahwa protes telah menelan korban jiwa dalam jumlah ribuan dan menyalahkan Amerika Serikat sebagai pihak yang berada di balik instabilitas tersebut.
">Selain korban tewas, ribuan warga Iran juga dilaporkan ditangkap. Data menyebutkan lebih dari dua puluh enam ribu orang kini berada dalam tahanan. Kondisi ini memicu kekhawatiran luas, mengingat Iran dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat eksekusi tertinggi di dunia.
Kepala Kepolisian Nasional Iran, Jenderal Ahmad Reza Radan, menyatakan bahwa pihaknya memberi kesempatan kepada para demonstran untuk menyerahkan diri. Ia mengklaim mereka yang kooperatif akan mendapatkan keringanan hukuman, meski tidak merinci konsekuensi yang akan dihadapi jika batas waktu penyerahan diri terlewati.
Sementara itu, dari Washington, Presiden Donald Trump juga melontarkan ancaman balasan yang tak kalah keras. Dalam wawancara dengan jaringan televisi News Nation, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan mengambil langkah ekstrem jika Iran benar-benar mencoba mencelakai dirinya.
Trump mengaku telah memberikan instruksi tegas kepada aparat keamanan dan militer untuk menghancurkan Iran jika ancaman tersebut diwujudkan. Ia menyebut bahwa respons Amerika tidak akan bersifat terbatas, melainkan menyasar keseluruhan negara.
Dalam wawancara eksklusif bersama pembawa acara Katie Pavlish, Trump mengatakan bahwa setiap ancaman terhadap presiden, baik yang masih menjabat maupun tidak, harus dibalas secara keras. Ia juga menyindir pendahulunya, Joe Biden, yang dinilai terlalu lunak dalam menghadapi ancaman Iran selama masa kepemimpinannya.
Saling ancam antara Teheran dan Washington ini menambah daftar panjang konflik diplomatik kedua negara. Situasi tersebut memicu kekhawatiran global akan potensi eskalasi yang lebih luas, terutama di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah yang masih rapuh dan penuh ketidakpastian. (*)











