Metaberita.com – Rencana konser penyanyi Valen di Kabupaten Pamekasan menuai polemik setelah KH Ali Salim, yang dikenal sebagai salah satu tokoh Front Persaudaraan Islam (FPI), menyampaikan pernyataan bernada ancaman terhadap pihak penyelenggara. Ia menegaskan akan mengambil tindakan keras apabila 11 poin rekomendasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan tidak dijalankan.

Pernyataan tersebut disampaikan KH Ali Salim dalam pidato peringatan Isra Mikraj. Dalam pidatonya, ia menyebut adanya potensi kerusuhan apabila aturan yang telah ditetapkan dilanggar. Ia juga menyinggung kemungkinan keterlibatan pihak lain untuk bergerak apabila terjadi pelanggaran di lokasi konser.

“Kalau tidak ada komando bagaimana? Masih ada Abdul Aziz dan yang lain. Saya tinggal menunggu telepon saja. Kalau tidak mematuhi aturan, pasti ada kerusuhan, kita lihat saja,” ujar KH Ali Salim sebagaimana terekam dalam pidatonya.

Selain itu, Ia juga mengimbau para pengikutnya untuk bersiaga dan membawa tongkat serta berjaga di luar area konser. Imbauan tersebut memunculkan kekhawatiran publik, lantaran benda yang dimaksud diduga dapat digunakan sebagai alat pemukul apabila pembubaran paksa dilakukan.

Situasi tersebut mendorong imbauan kepada masyarakat, khususnya penonton yang datang dari luar Pulau Madura, agar meningkatkan kewaspadaan. Penonton juga disarankan tidak membawa anak-anak karena kondisi di lapangan dinilai berpotensi berkembang di luar kendali.

Tekanan dan ancaman yang disampaikan oleh salah oknom Ormas FPI turut memengaruhi sikap Pemerintah Kabupaten Pamekasan. Bupati Kholilurrahman dilaporkan memilih untuk tidak terlibat langsung dalam rangkaian agenda penyambutan konser Valen guna menghindari polemik yang lebih luas.

Di sisi lain, sejumlah warga menyatakan keberatan atas adanya ancaman pembubaran konser tersebut. Mereka menilai tindakan sepihak justru berpotensi memicu konflik horizontal di tengah masyarakat. Warga menegaskan akan ada perlawanan apabila terdapat oknum, kelompok, atau organisasi kemasyarakatan yang mencoba menggagalkan atau membubarkan konser secara paksa.

Menurut warga, konser Valen merupakan bentuk kepulangan putra daerah ke kampung halamannya untuk merayakan keberhasilan yang telah diraih. Karena itu, mereka menilai acara tersebut seharusnya mendapat dukungan, bukan tekanan.

">

“Kalau ada yang tidak menyukai acara itu, sebaiknya tidak perlu datang. Tidak perlu mengatur kehidupan orang lain,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Perbedaan pandangan terkait rencana konser Valen ini menunjukkan adanya potensi gesekan sosial di tengah masyarakat. Sejumlah pihak berharap aparat keamanan dan pemerintah daerah dapat mengambil langkah antisipatif agar situasi tetap kondusif dan tidak berkembang menjadi konflik terbuka.