Metaberita.com – Acara halal bihalal dan peringatan Harlah ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang digelar di Aula Grand Mercure Kemayoran, Jakarta, Minggu (19/4/2026), berlangsung dalam suasana yang tak biasa. Alih-alih menjadi forum silaturahmi penuh kehangatan, acara tersebut justru diwarnai pernyataan kritis terkait relasi antara kader PMII dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Ketua panitia, Nusron Wahid, membuka sambutan dengan nada reflektif yang menyiratkan kritik. Ia menyebut adanya kekeliruan yang tidak bisa lagi ditutupi, serta menyinggung “dosa lima tahunan” yang harus diselesaikan.

“Ada yang keliru, dan itu tak bisa lagi ditutup-tutupi,” ujar Nusron di hadapan ribuan kader dan alumni PMII.

Pernyataan tersebut memicu perubahan suasana. Tawa yang muncul dari peserta lebih mencerminkan kegelisahan daripada keceriaan. Bagi sebagian kader, ungkapan itu dipahami sebagai kritik terhadap dinamika internal dan arah relasi kekuasaan di tubuh Nahdlatul Ulama.

Nusron juga mengajak kader PMII untuk kembali memperkuat posisi di dalam organisasi induk.

“Mari kita sambut kemenangan bersama agar PBNU kembali menjadi rumah bagi kader PMII,” tambahnya.

Nada kritik yang lebih tegas disampaikan oleh Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar. Ia menilai pengelolaan PBNU belum optimal, meskipun organisasi tersebut memiliki potensi besar.

“PBNU sebagai organisasi besar butuh pengelolaan yang benar. Potensi terbesar untuk masa depan NU ada di tangan IKA PMII,” ujarnya.

">

Pernyataan tersebut memperkuat kesan bahwa pertemuan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan momentum konsolidasi alumni dan kader PMII untuk kembali mengambil peran strategis dalam struktur NU.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar memilih pendekatan yang lebih konseptual. Ia menyoroti posisi NU dalam konteks global sebagai kekuatan diplomasi non-negara berbasis agama.

“NU telah menjadi influencer dalam geopolitik dunia. Namun, kita tidak boleh terlena dan harus terus memberikan pencerahan, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Acara ditutup oleh Ketua Umum PB IKA PMII, Fathan Subhi, yang menekankan pentingnya menjaga soliditas kader dan alumni.

“Soliditas yang hadir malam ini menunjukkan energi pergerakan masih terjaga,” katanya.

Meski ditutup dengan nada persatuan, pertemuan tersebut meninggalkan pesan kuat: adanya dorongan konsolidasi internal PMII untuk memperkuat kembali posisi dan pengaruhnya di tubuh PBNU. Momentum ini dinilai sebagai titik awal dari langkah strategis yang lebih besar ke depan. (Dull)